SEJARAH DESA CIBEUREUM


Di kaki Gunung Madati terdapat 3 Desa yaitu, Desa Cibeureum , Desa Cibubuhan dan Desa Caringin. Masing-masing pusat pemerintahan berada di ke 3 desa tersebut.Desa Cibubuhan pada saat itu terkenal menjadi transit para pedagang gula dan tembakau dan juga terkenal dengan seni ronggengnya.Sehubungan secara geografis Desa Cibubuhan terletak di daerah yang termasuk dataran tinggi yang curam dan rawan longsor sementara pusat pemerintahannya berada di dataran rendah.Pada 29 Desember 1908 terjadilah peristiwa bencana alam yang sangat memilukan sehingga menenggelamkan salah satu desa yaitu desa Cibubuhannya sendiri. Pasca terjadinya longsor itu pemerintahan 3 desa tersebut digabungkan menjadi satu desa yaitu desa Cibeureum yang dikenal dengan sebutan Cibeureum Kolot. Desa Cibeureum kolot pada saat itu dipimpin oleh Kuwu pertama pada masa penjajahan Hindia Belanda yang bernama Haji Muhamad Toha alias Kuwu Bintang, dengan pusat pemerintahan di Dusun Cibeureum, sekarang tepatnya di sekitar RW 07 Dusun Cibeureum.

Setelah terjadinya penggabungan tiga desa, pusat pemerintahan dipindahkan ke Kampung Desa yang sekarang dikenal Dusun Karangsari yang menjadi pusat pemerintahan Desa Cibeureum. Adapun Kepala Pemerintahannya tetap dibawah pimpinan Kuwu Bintang sejak tahun dari 1907 sampai dengan 1928.

Menurut penelusuran sejarah, selanjutnya secara berurutan Kepala Pemerintahan Desa dipimpin oleh: Atmadinata, Krama Dipraja, Prajadinata (-1945-1964 ), MS Karna Dinata/Kuwu Aleh( -1963-1978 ), Ganda Suganda ( Kartiker )-( 1979-1980 ), Enjom Harjo ( 1981-1989 ), Embih Supriadi BA.(1990 -1998), Endjom Djanglar( 1999-2007 ),Yoyo Suhaya ( PLH, 2007 ). Didi Kamsidi( 2007-2018) Pj.Kepala Desa H.Agustin Slamet, S.IP,. MM (2019-2020) Ayi Hidayat, SH.I (2021- sekarang ).